![]() |
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik, termasuk konflik Israel-Iran, telah mendorong kenaikan harga BBM di pasar internasional.
Menurutnya, Pertamina selama ini telah menahan harga Pertamax meski harga impor sudah jauh lebih tinggi. Saat ini, harga keekonomian Pertamax diperkirakan berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.
"Kami berupaya menahan harga selama mungkin agar masyarakat tidak terlalu terbebani, namun di sisi lain kami juga harus memastikan ketersediaan pasokan energi tetap terjaga," ujar Sigit.
Ia menegaskan bahwa BBM non subsidi tidak mendapatkan bantuan fiskal dari pemerintah sehingga penyesuaian harga mengikuti perkembangan pasar. Jika harga terus dipertahankan di bawah nilai keekonomian, kemampuan perusahaan untuk membeli pasokan BBM dari pasar internasional dapat terganggu dan berpotensi memengaruhi ketersediaan stok dalam negeri.
Meski mengalami kenaikan, Pertamina menyebut harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan harga BBM setara di sejumlah negara tetangga yang telah mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000 per liter.
Pertamina memastikan akan terus memantau perkembangan pasar energi global guna menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan BBM bagi masyarakat.


0Komentar